SONNYTV.NET, Bungo – Aksi biadab dilakukan oleh seorang ayah di Kabupaten Bungo, yang tega mencabuli atau setubuhi anak kandungnya sendiri yang masih berusia 15 tahun hingga akhirnya hamil 6 bulan.

Kapolres Bungo, AKBP Wahyu Bram mengungkapkan, dalam kasus ini, Unit Reskrim mengamankan seorang tersangka bernama ME (43) warga Kecamatan Bathin II Pelayang.

Sedangkan korban Bunga (16) (Bukan Nama Sebenarnya) harus menanggung malu atas perbuatan Ayah nya sendiri karena dipaksa untuk berhubungan intim hingga hamil.

Lantas bagaimana pandangan dari Psikolog? Tim SONNYTV.NET, berhasil menghubungi Psikolog Bungo Fina Afriany, S.Psi, M.Psi.,

Menurutnya. Sebagian besar pelaku pelecehan seksual adalah orang yang dikenal korban seperti keluarga. Dampak psikologi yang bisa dialami oleh korban seperti trauma mental, ketakutan, malu, kecemasan bahkan keinginan atau percobaan bunuh diri.

“Dampak sosial misalnya perlakuan sinis dari masyarakat di sekelilingnya, ketakutan terlibat dalam pergaulan dan sebagainya,”ujar Fina.

Pertanyaan nya, mengapa anak kerap menjadi target kekerasan seksual?. Fina menalnjutkan ada beberapa alasan mengapa anak sering kali menjadi target kekerasan seksual yaitu.”Anak selalu berada pada posisi yang lebih lemah dan tidak berdaya, moralitas masyarakat khususnya pelaku kekerasan seksual yang rendah, kontrol yang kurang,”jelasnya lagi.

Kekerasan seksual terjadi pada anak oleh orang tua karena salah satu faktornya adalah faktor lingkungan dan juga latar belakang psikis dari pelaku di masa lalu sebagai bentuk ketidaksiapan mental, kemudian mempengaruhi perilaku pelaku yang kemudian melakukan kekerasan seksual yang terjadi secara spontan karena adanya rangsangan.

“Kekerasan seksual oleh orang tua dapat juga dikatakan sebagai incest, atau hubungan sedarah adalah perilaku seksual menyimpang. Kekerasan seksual atau pencabulan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua merupakan sudah termasuk suatu tindak pidana,”sebut Fina.

Finas merinci faktor – faktor yang dapat mempengaruh tindak pidana pencabulan :
1. Faktor rendahnya pendidikan dan ekonomi Rendahnya tingkat pendidikan formal dalam diri seseorang dapat menimbulkan dampak terhadap masyarakat dan yang bersangkutan mudah terpengaruh melakukan suatu kejahatan tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya.

2) Faktor Lingkungan atau Tempat Tinggal Kejahatan asusila adalah merupakan tindak manusia terhadap manusia lainnya di dalam masyarakat.

3) Faktor Minuman Keras (beralkohol) Kasus pencabulan juga terjadi karena adanya stimulasi diantaranya karena dampak alkohol.

4) Faktor Teknologi Adanya berkembangnya teknologi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif.

5)Peranan Korban Peranan korban atau sikap korban sangat menentukan seseorang untuk melakukan kejahatan terhadapnya termasuk kejahatan asusila. Sebagaimana dikemukakan oleh Von Henting menyatakan bahwa korban lah yang kerap kali merangsang seseorang untuk melakukan kejahatan dan membuat orang menjadi jahat. Dalam setiap kasus percabulan maupun perkosaan paling tidak melibatkan tiga hal yaitu pelaku, korban, serta kondisi. Ketiga hal tersebut tidak dapt dipisahkan satu sama lain, masing-masing mempunyai andil sendiri- sendiri dalam mendorong timbulnya suatu tindakan pidana percabulan. Selain itu terjadinya suatu tindakan percabulan ataupun perkosaan juga di dorong oleh peran pelaku, posisi korban dan pengaruh lingkungan.

“Korban membutuhkan pendampingan untuk melapor kepada pihak yang berwajib, supaya memberi efek jera pada pelaku, dan korban mendapatkan perlindungan agar tetap dapat menjalankan fungsi sosialnya,”tutupnya.

Reporter : STV

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here