SONNYTV.NET, Tuban – Desa Gesikan, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban pernah digegerkan dengan seorang warganya yang tiba-tiba pulang ke rumah setelah dimakamkan. Warga tersebut adalah Sunarto, yang dikabarkan meninggal dunia karena kecelakaan. Usut punya usut, yang meninggal dunia dan dimakamkan itu ternyata bukan Sunarto, kok bisa?

Peristiwa yang menghebohkan desa tersebut terjadi pada 8 Oktober 2019. detikJatim merangkum dan mengulas kembali kejadian tersebut melalui rubrik baru bernama Jatim Flashback yang akan tayang tiap Sabtu dan dimulai hari ini, 24 September 2022.

Awalnya keluarga Sunarto mendapatkan kabar duka tersebut pada Senin siang, 7 Oktober 2019. Mereka menerima telepon dari kepolisian jika Sunarto tewas karena kecelakaan tunggal di Lamongan. Keluarga lalu diminta untuk menjemput jenazah Puskesmas Brondong Lamongan.

Keesokan harinya, keluarga berangkat ke Lamongan. Mereka membawa pulang jenazah untuk segera dimakamkan. Saat itu, keluarga tak sampai melihat jenazah secara utuh.

“Jenazah datang setelah pukul 12 siang. Kemudian dimakamkan sekitar jam 3 sore,” terang Abdul Qoyum, salah seorang perangkat Desa Gesikan kala itu.

Namun, sekitar 6 jam berselang, Sunarto tiba-tiba pulang ke rumah.

“Malam harinya Sunarto pulang,” tambah Qoyum.

Jelas saja warga kaget. Bahkan ada yang ketakutan. Jenazah siapa yang mereka makamkan pada sore harinya?

“Memang banyak warga kaget melihat Sunarto datang Senin malam, karena warga merasa telah memakamkannya,” kata Qoyum.

Sunarto selama ini bekerja sebagai kuli bangunan di Lamongan. Dia pulang ke rumah setelah mendapatkan cerita dari teman-temannya bahwa rumahnya ramai. Ketika pulang ke rumah, Sunarto pun kaget kalau dirinya dikabarkan meninggal dunia. Dia merasa sehat-sehat saja.

Lantas, keluarga dan perangkat desa setempat mencari benang merah kejadian ini. Polisi pun dihubungi. Selanjutnya, penelusuran dilakukan.

Semua berawal dari kecelakaan tunggal yang terjadi di Jalan Raya Brondong, Lamongan. Seorang pengendara motor pria tewas. Korban mengalami luka parah di bagian wajah.

Saat itu, pengendara motor tersebut tidak membawa identitas diri. Baik KTP maupun SIM.

Satu-satunya petunjuk bagi polisi saat itu adalah selembar STNK motor yang ditemukan di jok motor. Coba tebak, siapa pemilik STNK itu? Ya, di STNK tersebut tercantum atas nama Sunarto.

Berbekal temuan STNK itu, Polsek Brondong, Lamongan kemudian menghubungi Polsek Grabagan, Tuban. Polsek Brondong meminta bantuan untuk mengabarkan kepada keluara Sunarto.

“Petugas Polsek Brondong tidak menemukan identitas korban laka yang mengalami luka parah di wajah yang sulit dikenali lagi. Yang didapati hanya selembar STNK atas nama Sunarto. Kami dikabari untuk menghubungi keluarga di Gesikan supaya datang ke Brondong untuk ambil jenazah,” jelas Kapolres Tuban saat itu, AKBP Nanang Haryono, 8 Oktober 2019.

Keluarga Sunarto sudah kadung larut dalam duka. Mereka sudah pasrah mendengar kabar menyedihkan itu.

Saat datang ke puskesmas, mereka hanya membuka bagian atas kafan. Wajah jenazah itu tidak bisa dikenali karena luka parah akibat kecelakaan.

Meski tak sampai melihat jenazah secara utuh, keluarga saat itu yakin jika yang meninggal adalah Sunarto. Sebab, mereka melihat langsung motor Sunarto yang rusak parah, serta selembar STNK yang ditemukan polisi.

Singkat cerita, jenazah tersebut dibawa pulang ke Tuban. Keluarga dan warga pun memakamkan jenazah tersebut di pemakaman setempat.

Setelah diketahui duduk perkaranya, Sunarto akhirnya buka suara. Dia sudah menyadari apa yang terjadi. Ternyata, motor yang kecelakaan itu dikendarai oleh temannya yang bernama Wartim, warga Dusun Jarum, Desa Prunggahankulon, Kecamatan Semanding, Tuban.

Wartim membawa motor tersebut karena Sunarto punya utang. Sunarto menyerahkan motornya sebagai jaminan.

“Sunarto pulang malam itu karena dikabari teman kerjanya di Brondong bahwa rumahnya ramai, katanya dia (dikabarkan) telah meninggal karena kecelakaan. Padahal motor itu sebenarnya digunakan oleh Wartim karena untuk jaminan pinjam uang. Jadi yang meninggal itu Wartim, teman Sunarto,” ungkap Kapolres Nanang.

Sunarto dan Wartim sudah kenal lama. Keduanya sahabat karib. Mereka juga sama-sama merantau ke Lamongan.

Setelah mengetahui bahwa jenazah yang dimakamkan itu adalah Wartim, Sunarto lalu menghubungi keluarga Wartim. Dia menyampaikan kabar duka bahwa Wartim telah meninggal dunia.

Keluarga Wartim ikut diajak berembuk. Apakah jenazah Wartim akan dipindahkan dan dimakamkan di tempat asalnya?

Kepolisian, koramil, desa, dan kecamatan bahkan sampai merapatkan hal itu. Setelah berdiskusi panjang lebar, semua pihak sepakat untuk tidak memindahkan jenazah Wartim.

“Setelah dirapatkan, tidak usah bongkar makam. Keluarga juga menyepakati itu,” terang Kapolsek Grabagan, Tuban saat itu, AKP Ali Kantha.

Semua pihak sepakat untuk mengganti papan nisan. Nisan atas nama Sunarto akhirnya dicabut dan diganti dengan nama Wartim.

“Akhirnya sepakat untuk mengganti nisannya saja,” kata Ali.

Belakangan diketahui, Sunarto mengganti namanya setelah kejadian yang bikin geger satu desa itu. Kini namanya berganti jadi Muhammad Narto Pribadi. Pergantian nama tersebut diharapkan akan membuang sial.

Nama tersebut adalah pemberian dari tokoh agama di Desa Gesikan. Namun meski sudah ganti nama, warga desa tersebut telah terbiasa dan tetap memanggilnya Sunarto.

Sumber : Detikcom

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here